Pelakor? Ternyata inilah azabnya!

author

Dalam beberapa waktu terakhir, istilah pelakor tengah viral di kalangan pengguna media sosial. Singkatan dari Perebut Laki Orang tersebut belakangan menjadi isu hangat yang kerap muncul di antara netizen hingga seleb. Tak sedikit kabar yang mencuat hingga viral mengenai rumah tangga yang hancur akibat orang ketiga yang kemudian dilabeli dengan pelakor. Bahkan, turut viral pula kisah-kisah adanya karma bagi pelakor. Bagaimana tinjauan syariat mengenai hal ini?

Alih-alih menyebut karma, ada ancaman dosa yang diberikan kepada siapa saja yang merusak sebuah rumah tangga. Syariat Islam melarang siapa saja dari mengganggu hubungan harmonis suami-istri. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Barang siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya, maka dia bukan bagian dari kami.” (HR. Imam Ahmad).

Dalam Ensiklopedi Fiqh disebutkan, maksud merusak hubungan tersebut yakni menjadi sebab perceraian antara wanita dan suaminya, baik secara langsung mempengaruhi agar bercerai, ataupun cara lain yang tak langsung menyebabkan perceraian.

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda, “Bukan bagian dari kami, orang yang melakukan tahbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Dawud).

Dosa tahbib yakni mempengaruhi wanita agar hatinya berpaling dari sang suami. Jadi tak hanya perebut laki orang, dosa dan hukuman yang sama juga berlaku bagi perebut wanita atau istri orang. Bahkan Rasulullah berlepas diri dari para “penggoda” pasangan orang lain ini dengan menyebut mereka bukan bagian dari umat beliau shallallahu ‘alaihi wasallah. Naudzubillah, jika Rasulullah saja enggan, apalagi Allah Ta’ala.
Dosa Pelakor dan Perzinahan

Sejatinya, pelakor membuat seorang suami berselingkuh dari istrinya. Perselingkuhan ini tentu saja berupa hubungan yang tak didasari pernikahan. Alhasil, semua yang dilakukan pelakor dengan suami khianat adalah perzinahan. Padahal zina merupakan dosa besar dengan ancaman api neraka yang menyala.

Perlu digaris bawahi bahwa zina bukanlah terbatas makna berhubungan intim antara wanita dan pria tanpa ikatan pernikahan. Termasuk dalam zina yakni menikmati dan memandangi wajah non mahram, berpegangan tangan, berduaan, bahkan termasuk pula mengobrol dan chat mesra. Semua itu masuk dalam kategori zina. Hal ini sebagaimana hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya Allah menetapkan bagian zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari. Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluanlah yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Padahal Allah secara jelas memperingatkan dalam kitab-Nya tentang laragan berzina. Bahkan mendekatinya pun tidak diizinkan syariat. “Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32).

Azab bagi seorang yang berzina pun sangatlah mengerikan. Inilah akhir dari pelakor dan suami khianat yang jelas-jelas melakukan perzinahan. Dikisahkan Rasulullah tentang mimpi beliau yang menggambarkan hukuman Allah pada manusia bejat.

“... Sampailah pada sebuah bangunan layaknya tungku pembakaran. Tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dan teriakan. Kemudian aku menengoknya, lalu kudapati di dalamnya laki-laki dan perempuan yang telanjang. Tiba-tiba mereka didatangi nyala api dari bawah mereka. Mereka pun berteriak. Aku bertanya pada Malaikat Jibril dan Mika’il, “Siapa mereka?” Keduanya menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang ada di dalam tungku pembakaran merupakan para pezina.” (HR. Al Bukhari).

Sumber: Muslimahdaily

Choose your Reaction!
guy rocket
arrow