Realistis Boleh, Pesimis Jangan!

author
"Realistis boleh, pesimis jangan!"


Kira-kira, kalimat seperti itulah yang sahabatku katakan. Kalimat yang cukup membuat hatiku tertohok. 

"Nilaiku kecil. Mana mungkin bisa masuk sekolah impian. Kalau gini caranya, aku pasti bakalan dimasukin ke pesantren." Sedari tadi, aku hanya mengaduk-aduk es teh manis yang sudah tidak dingin.

"Jangan gitu! Kamu harus optimis."

"Mau optimis bagaimana? Saat mengerjakan soal matematika tadi saja banyak yang aku tembak secara asal, bagaimana nanti hasilnya. Catat ya, aku realistis bukan pesimis."

Sahabatku langsung meletakkan garpu batagornya. Dengan segera, ia menunjukkan garpu tersebut di depan wajahku. Sontak saja aku segera menutup mata.

"Kamu tuh, ya! Gemes banget rasanya jadi pengen colok mata kamu pake garpu. Pesimis banget, sih. Aku tahu seberapa keras usaha kamu saat belajar. Sampai kamu rela pulang malam cuma buat nanya-nanya ke guru les kamu. Belum lagi, setiap jam tiga malam kamu pasti bangun buat sholat terus lanjutin belajar lagi. Ingat, usaha nggak akan ngehianatin hasil." Sahabatku kembali menyantap batagornya setelah itu.

"Tapi, realitanya aku nggak bisa ngerjain soal-soal itu. Justru soal-soal itu yang ngerjain aku."

Tiba-tiba saja, sahabatku langsung terbahak. Aku pun bingung. Apanya yang lucu?

"Receh banget sumpah! Kamu ngelawak pada saat waktu yang nggak tepat. Pas lagi serius-seriusnya malah ngerusak suasana."

"Ish, kamunya aja yang selera humornya rendah. Segitu nggak lucunya dibilang lucu. Lucuan juga aku kali. Udah, lanjut!"

"Untung sahabat, kalau bukan udah beneran aku colok mata kamu pake garpu. Jadi gini, rezeki itu udah ada yang ngatur, Lit. Seandainya nilai kamu kecil, mungkin itu bukan rezeki kamu. Mungkin, itu rezeki orang lain ..."

"Tapi ...."

"Bentar dulu, jangan motong pembicaraan. Aku belum selesai. Kamu pasti akan bilang kalau katanya usaha nggak akan menghianati hasil, 'kan? Memang benar usaha nggak akan menghianati hasil. Sebelum itu, aku mau tanya dulu. Kamu ikhlas nggak ngejalanin semua itu? Maksudnya, pulang malam hanya untuk belajar, bangun di sepertiga malam juga untuk belajar. Kamu ikhlas nggak ngejalaninnya? Kalau kamu ikhlas, in syaa Allah kamu akan diberikan sesuatu yang terbaik.

"... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Qur'an surat Al-Baqarah ayat 216. Nah, apa yang terbaik menurut kamu, belum tentu terbaik menurut Dia. Allah lebih tau apa yang terbaik untuk kamu. Mungkin, kamu belum ngerasain kebaikannya itu saat ini. Tapi, yakin deh bahwa suatu saat nanti kamu akan merasakannya."

Sahabatku menyereput es teh manisnya dan memilih melanjutkan menghabiskan batagornya. Sementara sahabatku menghabiskan batagornya, aku sibuk mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh dia. Sebenarnya, aku tidak begitu setuju dengan pendapat yang dia sampaikan. Namun, hati kecilku menyetujuinya. Akhirnya, aku cerna kalimatnya itu dengan mengesampingkan egoku.

"Sekarang aku paham. Kamu benar, Ri. Mungkin, saat belajar sampai ngerelain jam tidurku berkurang aku belum ikhlas ngelakuinnya. Sampai akhirnya, otakku korsleting saat ngerjain soal. Mungkin juga, ini bukan rezeki aku. Dan mungkin, Allah udah mempersiapkan yang lebih baik dari ini untuk aku. Husnuzan itu harus, 'kan? Dengan masuknya aku ke pesantren, bisa jadi ini salah satu jalanku buat kuliah di Madinah. Kamu masih ingat kan impianku?

"Ah, makasih banget Ri, kamu udah buat pikiran aku terbuka. Kamu emang sahabatku yang terbaik!"

Aku memeluk Mentari--sahabatku--dengan erat sembari mengucapkan syukur sebanyak-banyaknya sebab mempunyai sahabat yang dapat mengingatkanku ke jalan yang benar.

"Tuh, kan! Setiap hal yang Allah kasih itu nggak akan mungkin tanpa adanya suatu tujuan. Makanya, jangan pesimis dulu. Rencana Allah itu pasti indah. Kayak yang kamu omongin, mungkin dengan masuknya kamu ke pesantren, jalan kamu untuk kuliah di Madinah akan lebih mudah. In syaa Allah. Hamasah, Pelita!"

Choose your Reaction!
guy rocket
arrow